Skip navigation

“Bu, gimana kabarnya sekarang? Lama nih ga makan disini..”. Itu sapa saya kepada Ibu di warung nasi sebelah laboratorium saya. “ah..neng, BBM ga jadi naik, tapi harga bahan-bahan pokok pada naik..”, jawab ibu warung sambil memetik tangkai cabai rawit. Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk-ngangguk. Lalu ibu menambahkan, “mau naikin harga makanan, tapi khawatir pelanggan pada ga datang, neng.. serba salah Ibu..”. Makan siang kali itu penuh dengan obrolan-obrolan ringan tentang kabar sehari-hari Ibu warung.

Besoknya, seperti biasa saya berangkat ke lab ditemani sepeda motor andalan saya, Invi namanya (intermezo:p). Hari itu saya berangkat agak siang, jam 9 pagi tepatnya. Saya bilang siang, karena saat itu matahari sudah cukup menyengat punggung tangan saya. Di tengah jalan, karena tidak tahan lagi dengan sengatan sinar matahari, saya berhenti di pinggir jalan tempat orang jualan sarung tangan. “Pak, mau liat sarung tangan yang itu dong”, sapa saya ke Bapak penjual. Sarung tangan itu bergaris biru-putih, biru-putih. Sepengalaman saya, sarung tangan model gini, cukuplah hanya dengan bayar Rp 7.000, tapi Bapak penjual itu bilang harganya Rp 8.000. Lalu saya menunjuk ke atasnya, minta diambilkan sarung tangan yang lain. Ternyata yang saya tunjuk ini harganya Rp 10.000. Sedikit lebih bagus dari yang tadi. Akhirnya saya memutuskan beli yang ini. “Pak, gak bisa kurang ni harganya?”, tanya saya. Maklum wanita, tawar kalau bisa:D. Lalu Bapak menjawab, “Neng, harga-harga semua naik.. BBM ga naik, tapi harga-harga pada naik.. Kalau begini, lebih baik naik aja sekalian BBM.. “. Waduh, si Bapak, kok malah jadi ngomongin BBM ya, fikir saya. Lalu saya jawab, “ehm… gitu ya Pak.. Jadi menurut Bapak, mending BBM naik saja kalau begitu?”. Bapak penjual menjawab lagi, “iya neng.. mending naik saja… kalau begini,  kami orang kecil yang kena dampaknya.. Kami jadi serba salah mau naikin harga, pembeli pada protes”. Singkat cerita, akhirnya obrolan singkat itu ditutup dengan deal saya beli sarung tangan dengan harga si Bapak.

Itu hanya sepenggal kisah yang bisa saya tuangkan disini. Sering kali juga saya dengar percakapan orang-orang di angkot yang juga bicara tentang hal serupa. Saya jadi berfikir. Sebenarnya untuk siapa dulu diperjuangkan harga BBM tidak naik? Atas nama rakyatkah? Lalu sekarang, bagaimana keadaan rakyat? Apakah lebih baik dengan tidak jadi naik harga BBM? Kemana sekarang para penolak kenaikan BBM itu? Apa membaik hidup mereka pasca tidak jadinya naik harga BBM, sehingga mereka tidak lagi muncul di jalanan atau di media menyuarakan aspirasi atas nama rakyat. Kata mereka, BBM naik akan membuat Rakyat semakin menjerit. Lalu, kini, BBM tidak naik, apa rakyat tidak menjerit? Sebegitu pilukah jeritan mereka hingga tidak lagi terdengar di telinga kita? Saya hanya berharap perjuangan atas nama rakyat tidak berhenti disana.

Saya sebenarnya orang yang tidak setuju dengan aksi penolakan kenaikan harga BBM. Tapi, saya juga tidak setuju jika BBM naik tanpa disertai rencana yang jelas, akan dikemanakan alokasi subsidi BBM itu jika harga BBM naik?

Jelas saya melihat bahwa kebanyakan pengguna mobil pribadi adalah kalangan menengah ke atas, dan sering juga saya temui mereka antri di pom bensin premium. Apakah mereka rakyat itu? Rakyat yang dulu namanya dibawa-bawa di spanduk, kertas, dan papan berpilok itu?

Saya memang bukan ahli Ekonomi. Tapi saya gerah melihat ini semua. Saya tidak tahan melihat keadaan mereka. Yang kecil makin kecil, yang besar makin besar. Saya rasa bukan solusi cerdas untuk menolak kenaikan harga BBM seutuhnya. Naikkan BBM, tapi tidak untuk kendaraan umum, sehingga diharapkan masyarakat mau mengurangi frekwensinya berkendara mobil pribadi dan berbondong-bondong hijrah ke kendaraan umum, daripada membuat sesak jalanan dengan mobil yang berisi hanya satu atau dua orang. Pun untuk pemerintah, orang-orang pintar disana yang menjabat demi kepentingan rakyat, berilah penjelasan yang jelas, kemana subsidi itu nanti akan dianggarkan. Infrastrukturkah? Kesehatankah? Pendidikankah? Kearah mana program pembangunan jangka panjang negara kita dengan adanya kebijakan pembatasan subsidi BBM tersebut? Apakah armada angkutan umum akan ditambah disertai dengan diperbaikinya fasilitas-fasilitas umum? Sehingga rakyat merasa nyaman menggunakan kendaraan umum. Atau apakah akan ada kereta super cepat di tahun 2020 nanti?? Siapa tau… ya semoga saja. Beri penjelasan yang jelas kepada kami.

Lalu kontrol pasar. Kontrol pasar perlu dilakukan, terlepas apakah BBM naik atau tidak naik. Kontrol pasar perlu dilakukan agar si kaya tidak menaikkan harga seenaknya, dan si miskin tidak tergena getahnya. Lihat sekarang, BBM tidak naik, harga bahan pokok malah naik, siapa disana?

Pemerintah mengusulkan untuk menempuh kebijakan pembatasan subsidi BBM dengan catatan. Catatan ini ialah adanya kompensasi untuk meredam shock dalam jangka pendek untuk masyarakat yang membutuhkan (transfer payment). Lalu, apa hanya itu? Apa hanya itu catatan untuk kebijakan pembatasan subsidi BBM? Kenapa tidak dipaparkan juga program jangka panjangnya? Kenapa tidak berusaha untuk membuat kami percaya dan berfikir, mana sebenarnya kebijakan yang lebih baik untuk kemajuan negara ini?? Siapa sih rakyat yang tidak mau pendidikan gratis, pelayanan kesehatan membaik bagi rakyat miskin, dan makin tertata serta tersebar pembangunan infrastruktur negara ini. Tidak bisakah dipaparkan dengan lebih konkret?? Sekonkret kami dituntut di kampus untuk memberikan alasan yang konkret untuk suatu persoalan. Program jangka panjang saja yang sebenarnya ingin dicapai dengan kebijakan ini?

Lalu, wakil rakyat. Saya harap jiwa-jiwa di Nusantara 1 dan 2 sana masih memiliki makna sejati akan kata ini.  Ya, kalian disana. Berilah kami contoh yang mumpuni. Contoh yang sederhana, bijak, dan tidak membuat kebijakan-kebijakan dan tingkah yang membakar dan menyakitkan hati nurani kami. Akan lebih baik rasanya jika para elemen pemerintahan memberikan contoh yang baik pada rakyat, sehingga rakyat tidak terlebih dahulu antipati terhadap kebijakan pemerintah, bahkan sebelum diberikan penjelasan.

Saya, adalah salah satu rakyat itu, rakyat yang masih cinta kepada Indonesia. Kami ingin anak cucu kami pun bangga dengan Negeri ini. Saya ingin percaya, bahwa kata-kata dosen saya yang menyatakan jika Negara ini salah urus, itu Salah. Saya percaya banyak orang pintar di Negeri ini.  Dan bara harapan saya masih terjaga, agar Indonesia dapat menjelma menjadi negara yang lebih baik dan sejahtera di masa yang akan datang. Kami hanya minta, tolong jaga kepercayaan kami dan hentikan mengikis rasa percaya kami kepada kalian orang pintar pembuat kebijakan.

05.06.2012

picture : here

One Comment

  1. kata dosen kurang lebih seperti ini “energi tuh mahal, kalau Indonesia mau mengkonversi energi. Mau gak mau subsidi BBM harus dicabut. Biar energi terbarukan bisa di subsidi, biar terjangkau daya belinya. Dan memang sudah saatnya Indonesia mencari energi baru pengganti energi fosil yang mau habis. Jangan harap energi terbarukan diterima masyarakat kalau gak disubsidi. Padahal energi terbarukan sangat potensial dgn alam Indonesia. Batu bara kita banyak, solar sel kita setahun penuh disinari matahari, tenaga samudra kita ada 2 samudra.”

    Alam sudah mendukung, tinggal kitanya yang siap untuk berubah atau enggak. Tinggal komitmen kita untuk membesarkan Indonesia bersama-sama atau cuman mau memperkaya diri sendiri. Tinggal mental kita yang pengen maju, atau tetep cukup mengemis hutang ke negara lain.

    bagaimanapun caranya (dengan cara yang benar tentunya), saatnya angkatan kita yang punya niatan2 baik dan beristiqomah di dalamnya, menjadi pemimpin di seluruh sektor kehidupan, menjadi barisan terdepan dalam perubahan, menjadi orang2 yang siap menguasai dunia… Aamiin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s