Skip navigation

Jakarta. Ini kali kesekian aku datang ke kota ini. Walaupun lahir di Jakarta, tapi orang tua asli Sumatra Utara. Keluarga besar masih disana semua. Aku menyelesaikan pendidikan formal di Indramayu-Jawa, lalu meneruskan ke universitas di tanah Sunda, dan kini tepat dua tahun kami sekeluarga tinggal di tanah Sunda. Jadi, Jakarta terasa cukup asing bagiku. Bukan hanya itu, bahkan bahasa Jawa dan Sundapun aku tak bisa. Salah satu akibat dari putri anak perantauan. Jadi, sebut aku orang Indonesia saja ya:D.

Tujuan datang ke Jakarta, sejauh ini hanya jika ada keperluan saja, baik itu acara keluarga, jalan-jalan keluarga, atau ada keperluan lainnya. Selesai urusan, balik lagi ke kota Bandung. Bolak-balik Jakarta, dapat satu kesan yang melekat kuat untuk kota ini, dalam satu kata, “Macet”. Hmm.. jadi ingat, pernah suatu ketika terjebak di bus kota jam11 malam karena hujan deras seharian, jadilah macet tak bergerak selama 2 jam. Saat itu, bahkan hampir tengah malam pun, banyak sekali orang di pinggir jalan yang menunggu angkutan umum yang bisa membawa mereka.

Selama beberapa kali ke Jakarta, aku sudah mencoba banyak kendaraan transportasi. Yang paling nyaman, memang kalau pergi bersama keluarga, jadi tidak perlu pusing mencari kendaraan umum. Cukup menikmati padatnya kendaraan sembari menerka-nerka fikiran orang-orang yang kelihatan berdesak-desakan di dalam bis. Pengalaman yang paling mengesankan ternyata ada saat berpetualang  di kota Jakarta seorang diri. Menjadi bagian dari salah satu dari kerumunan orang di dalam bis kota. Seru! :D

Sudah ada banyak kendaraan umum yang aku jajaki, baik untuk menuju Jakarta, ataupun selama di Jakarta. Pertama, Kereta api. Aku naik kereta api untuk menuju Jakarta dari Indramayu. Kereta api Cirebon Ekspress tujuan Gambir (akhirnya, bulan ini, setelah 10 tahun yang lalu, naik juga kereta api untuk kali kedua seumur hidup^^). Rasanya menyenangkan, tapi begitu sampai di Jakarta, baru terasa tantangan:D. Antrian di koridor-koridor Bus Way padatnya luar biasa. Hm.., sepertinya para pengguna bus way didominasi oleh mereka yang tidak memiliki kendaraan roda empat, akhirnya, tetap saja ruas jalan penuh dengan kendaraan roda empat. Keberadaan alat transportasi umum di tengah kemacetan yang sudah demikian parah, ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan warga Jakarta.

Aku sudah mencoba naik Kopaja, Metro mini, Ojek, dan Bus way Trans Jakarta (kecuali Taksi ya, karena budget tidak sesuai dengan kantong Mahasiswa :p). Semua kendaraan ini rajin sekali lalu lalang di Jakarta.  Kemacetan, sepertinya ini sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta. Tapi anehnya, saat aku berada di Kopaja, Metro Mini, bahkan bus way Trans Jakarta, ada saya orang yang terus mengeluh akan kemacetan ini. Bolak-balik melihat jam tangan, terlihat tidak tenang, tas disimpan dan didekap erat di depan badan, bahkan keluhan pun kadang terdengar. Haha.. lucu memperhatikan keadaan ini^^. Kukira, karena sudah menjadi makanan sehari-hari, mereka sudah terbiasa dengan ini. Hm.. kapan ya, kira-kira masalah kemacetan ini bisa terpecahkan? Waktu yang berharga, rasanya sayang jika banyak dihabiskan di jalanan untuk mengurai kemacetan:(.

Sepertinya banyak orang berlomba-lomba hijrah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak. Teman-teman dari Perguruan tinggi dulu juga banyak yang hijrah ke Jakarta, padahal mereka rata-rata putra-putri terbaik daerah luar pulau Jawa. Bahkan, teman-teman yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi pun juga banyak yang hijrah ke Jakarta. Jakarta… kenapa harus Jakarta ya?

Melihat kemacetan di Jakarta, jadi makin tersadarkan, ternyata masih banyak PR negara kita.  Penyebaran program pembangunan, infra struktur, dan keperluan birokrasi administrasi, ada baiknya tidak dipusatkan di Jakarta. Semoga saja banyak orang pintar, sekarang dan nanti, yang mau dan bisa mengimplementasikan ilmunya demi kemajuan negara kita, Indonesia:)

Lalu, bagaimana denganku nanti ya? Apa nanti aku juga termasuk dalam rombongan itu? Rombongan orang-orang yang berbondong-bondong ke Jakarta. Setelah lulus, kota mana yang akan aku hinggapi? Kita lihat saja nanti:)

Jakarta, memang kota yang tidak pernah sepi..

24.05.12.

Dibawah pohon di Jl. MH. Thamrin. Lagi, mengamati kemacetan kota yang tidak pernah sepi.

2 Comments

  1. Saya skrng hampir tiap hari bulak-balik Jakarta… Padahal kerja mah di bogor.. ^_^

    • ini satu lagi putra Bogor yg memadati Jakarta, hehee


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s