Skip navigation

“Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang diberikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkan”.

Buku ini ditulis oleh Randy Pausch (Professor bidang Ilmu Komputer Interaksi Manusia dan bidang Desain, Universitas Carnegie Mellon) dan Jeffrey Zaslow. Buku ini merangkum inti dari kuliah “pesan terakhir” yang diberikan oleh Randy Pausch, 47 Tahun. Kegiatan kuliah “pesan terakhir” ini sudah menjadi kebiasaan di kampus-kampus perguruan tinggi disana. Para professor diminta untuk memikirkan kematian mereka, dan merenungkan hal-hal apa saja yang paling berarti bagi mereka. Randy Pausch adalah salah satu professor di Universitas Carnegie Mellon. Yang membedakan kuliah “pesan terakhir” yang sudah biasa diselenggarakan ini adalah, Randy Pausch, orang yang ditugasi untuk memberikan kuliah ini mengidap kanker pankreas ganas dan divonis hidupnya kurang lebih hanya bersisa 6 bulan lagi.

Ketika membaca buku ini, orang tidak akan menemukan bagaimana Randy harus mengatasi dukanya, kesedihan orang-orang yang mencintainya, keluarganya, bahkan keluhan-keluhan mengenai penyakitnya. Dalam kuliah ini, Randy justru mengangkat tema “Benar-Benar Mewujudkan Impian masa Kecil Anda”.

Kita semua memiliki waktu dan energi yang terbatas. Setiap waktu yang kita habiskan untuk merengek tidak mungkin membantu kita mencapai tujuan. Juga tidak akan membuat kita lebih bahagia.

Randy memaparkan list impian masa kecilnya dan bagaimana sepanjang hidupnya ia terus berusaha fokus pada tujuan itu. Dalam buku ini juga diceritakan bahwa dalam perjalanan mewujudkan impian masa kecil itu, bukanlah jalan mulus yang selalu ia hadapi. Randy bahkan pernah ditolak untuk masuk di program magister salah satu universitas ternama disana, padahal ia telah memiliki beasiswa untuk membiayai perkuliahannya. Begitupun dengan impiannya untuk melayang di udara/ berada di gravitasi nol, menjadi perekayasa di Walt Disney, dan lain-lain. Cerita dalam buku ini pun dibumbui dengan kisah-kisah lucu yang mewarnai perjalanan benar-benar mewujudkan impian masa kecilnya.

Buku ini bagus untuk menginspirasi kita untuk mewujudkan impian masa kecil kita. Terkadang kita mudah sekali menjadi rapuh karena kegagalan yang kita alami. Karena satu kegagalan terkadang kita merasa bahwa kegagalan akan selalu menghantui langkah kita sehingga membuat takut dan ragu untuk kembali melangkah. Kita lupa bahwa tidak hanya satu pintu yang tersedia untuk kita. Kita hanya seringkali terpaku cukup lama pada satu pintu dan mengabaikan pintu-pintu lainnya. Tembok penghalang berdiri disana karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok itu ada untuk memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu. Bukankah emas menjadi berharga karena ketidakmudahan untuk mendapatkannya? Coba saja bayangkan, jika semua di sekitar kita adalah emas, maka emas itu tidak lagi akan berharga. Semua orang juga bisa mendapatkannya. Tidak ada lagi yang spesial mengenainya.

Selain tentang mewujudkan impian, inti dari buku ini adalah juga tentang bagaimana menjalani hidup. Jika kita menjalani hidup dengan cara yang benar, karma akan berjalan sendiri. Impian-impian itu yang akan mendatangi kita. Jadi, demi mewujudkan impian, janganlah mengambil cara cepat, sikut kanan, sikut kiri, lalu mengambil jalan pintas untuk mewujudkan sesuatu. Nikmati sajalah perjuangannya, pahitnya, dukanya, agar kau bisa merasakan hasilnya, manisnya, dan sukanya. Percayalah, keberhasilan yang diperoleh dari cara pintas tidak sama rasanya dengan keberhasilan yang diperoleh dari jerih payah dan keringat.

Memang, banyak buku-buku lain yang bertemakan sama. Namun, buku ini menjadi menarik karena ditulis oleh seorang orang pintar yang diusia ke-47nya divonis bahwa pengobatan dalam melawan kanker di tubuhnya gagal. Usia 47, masa ketika saatnya memetik buah hasil perjuangan di masa muda, tapi justru kenyataan mengenai kanker yang diterimanya. Tidak ada rasa penyesalan yang digambarkan oleh Randy. Ia justru bahagia pernah merasakan pengalaman-pengalaman hidup, suka, duka, kesuksesan dan kegagalan dalam mencapai impian-impiannya. No body’s perfect. Bagi Randy, pengalaman adalah ketika kau gagal mendapatkan sesuatu. Pengalaman itu sangat berharga sehingga bisa kau tawarkan. Tidak ada yang salah dengan kegagalan, yang salah adalah saat kau berhenti karena takut hanya oleh bayang-bayang kegagalan.

The brick wall are there for a reason. The brick wall are there not to prevent us to come. The brick wall are there to show how badly we want something.

They let us prove how badly we want things, because the brick wall are there to stop the other people who don’t want badly enough.

The brick wall are there to stop the other people.

One Comment

  1. jonsee pinjem bukunya donk, hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s