Skip navigation

Sedikit flash back ketika masih duduk di tingkat pertama bangku kuliah. Saat itu, saya paling anti dengan mata kuliah yang berjudul filsafat dan senang karena di jurusan yang saya ambil tidak ada mata kuliah Filsafat. Saya justru heran dengan jurusan lain, mengapa dari awal telah mendapatkan mata kuliah filsafat. Menurut pemikiran saya ketika itu, filsafat merupakan mata kuliah yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu saja bila mengikuti perkuliahan itu.

4 tahun kemudian saat mengambil program magister, materi yang disuguhi di semester pertama adalah mata kuliah filsafat science. Ahh! Saya merasa kesal karena mendapatkan mata kuliah tersebut. Berhasil terhindar saat program sarjana, sekarang malah terpaksa harus ikut. Hal yang membuat saya semakin kesal, sifat mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang wajib diambil. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa nyaman dan mulai menyukai pelajaran filsafat. Dengan kondisi saya yang mulai menyukai pelajaran tersebut, saya merasa kerdil dengan pemikiran saya 4 tahun yang lalu. Benarlah suatu istilah yang mengatakan bahwa “don’t judge a book from it’s cover” atau “tak kenal maka tak sayang”.

Seorang ilmuan/ scientist yang baik adalah mereka yang berani berfilsafat, karena hasil kerja filosofis dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu.

Perkembangan teori selama ini terus terjadi karena para ilmuan terus berfikir dan akhirnya memberikan suatu simpulan baru yang saling melengkapi antara teori satu dan lainnya. Ilmu yang sekarang dipelajari, ada beberapa diantaranya yang berbeda dengan yang sudah atau pernah didapatkan di bangku sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Sebagai contoh, saya coba ambil dari ilmu kimia, yaitu berkembangnya pengertian teori Asam-Basa. Yang mana pada awalnya dikemukakan oleh Arrhenius, lalu beberapa tahun kemudian ditambahkan oleh Bronsted-Lowry, dan terakhir muncul pendapat Asam-Basa menurut Lewis. Hal inilah yang menyebabkan adanya tiga pengertian dari Asam-Basa itu sendiri. Perkembangan teori ini terjadi karena para ilmuan ini terus berfikir dan akhirnya memberikan suatu simpulan baru yang saling melengkapi antara teori satu dan lainnya. Kejadian ini menunjukkan bahwa setelah suatu teori dikemukakan dan diterima kebenarannya, maka akan terus selalu ada eksperiment-eksperiment yang kemudian dilakukan untuk menguji dan menentukan kebenaran dari teori tersebut. Dan hasilnya, ternyata ada kondisi – kondisi khusus yang diperlukan agar pengertian Asam-Basa dari masing-masing dapat berlaku.

Berkembangnya ilmu pengetahuan seperti ini sesuai dengan cara pemikiran filsuf yang bernama Popper yang mengemukakan teori Falsifikasi. Popper meyakini bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang melalui falsifikasi. Falsifikasi itu sendiri adalah pendapat yang menolak kebenaran suatu teori. Menurut Popper, teori hanya bisa mendekati kebenaran, tapi tidak bisa benar-benar benar.

Popper mengatakan bahwa ilmiah tidaknya suatu ilmu pengetahuan didasarkan pada kemampuannya terhadap ketahanan uji (testability), bisa disalahkan (falsibility) dan bisa disangkal (refutability). Apabila teori dapat diuji dan memenuhi kompenen untuk disangkal maka ia telah memenuhi syarat keilmuan. Prinsip falsifikasi adalah upaya untuk membantah, menyangkal dan menolak teori. Popper lebih memilih hipotesa untuk menyebut teori yang diuji, karena teori itu akan selamanya hanya berupa hipotesa (dugaan sementara) yang akan terus menerus diuji. Menurut Popper, hal ini adalah prinsip ilmu sejati dan seorang ilmuwan sejati tidak boleh takut untuk menghadapi penolakan, bantahan, kritik, terhadap hipotesa yang dikemukakannya. Bahkan sebaliknya, ia akan terus mengharapkan sanggahan untuk tercapai kebenaran sejati. Menurut Popper, baik memverifikasi maupun mengkonfirmasi suatu teori itu mudah, tapi membuktikan bahwa teori itu salah (falsified) itu yang lebih penting.

Menurut prinsip Popper, Kebenaran dalam science besifat kemungkinan terbesar dan tidak mutlak. Kebenaran dalam science tidak bisa benar-benar benar, karena akan selalu dicari celah falsifikasi dan membuktikan bahwa kebenaran/ teori yang dianggap benar sekarang adalah salah, demikian seterusnya.

Para ilmuwan mencurahkan tenaga dan waktunya dalam ilmu pengetahuan untuk terus menerus berusaha membuktikan sahnya berbagai hipotesis, sehingga ilmu pengetahuan akan bertambah besar. Usaha ini sering disebut sebagai penelitian (research). Jadi bagi rekan-rekan Scientist, jangan takut untuk memfalsifikasi suatu teori. Teruslah berfikir untuk mencari terobosan baru dan membuktikan kebenaran dari suatu teori atau metode. Dengan berfikir seperti ini, maka penelitian tidak akan pernah selesai, melainkan akan terus berkembang dan berkembang untuk makin mendekati kebenaran, walaupun tidak akan pernah mencapai kebenaran yang mutlak, karena kebenaran yang mutlak hanyalah milik Allah SWT. Hah… semakin menyadari, ternyata ilmu pengetahuan yang selama ini dikaji manusia hanyalah ibarat buih di lautan. Sangat berbeda jauh dengan ilmu dan kekuasaanNya. Jadi, jika manusia hanya mengandalkan ilmu diri sendiri, tidak pantas rasanya jika ada orang yang sombong atau merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya. Maka, menjadilah seperti ilmu padi, “semakin berisi, semakin merunduk”. Mari berfilsafat dalam Science :) .

2 Comments

  1. nice post Brader.. semoga ilmunya bermanfaat.. ^_^

    • thx brader.. :) Amin…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s